Sunday, October 8, 2017

Jalan-jalan ke Eropa



JALAN-JALAN KE EROPA

Jalan-jalan ke Belanda

Kami berangkat naik pesawat Garuda dan bandara Sukarno Hatta terminal 3. Saya senang karena ini pertama kali saya terbang melalui terminal 3 ini, karena biasanya naik budget air line. Hehehe… Tiket kami jam 21.05, maka kami datang ke bandara sekitar jam 18.00. Kami sempat makan malam dulu di bandara. Di terminal 3, pengantar bisa masuk sampai ke tempat check in,  maka suami saya bisa mengantar kami sampai ke pintu untuk boarding. Kami sempatkan untuk sholat dulu di ruang tunggu sebelum masuk ke pesawat. Kami transit selama 40 menit di Changi, Singapura, lalu terbang selama 9 jam lagi ke Amsterdam. Saya senang sekali terbang dengan Garuda, karena walaupun terbang malam, tapi tetap bolak-balik ditawari makanan. Karena kenyang, saya yang biasanya sulit tidur di pesawat, akhirnya bisa tidur nyenyak. 


Kami tiba di Amsterdam jam 08.30 waktu Amsterdam. Saya sempat bingung mencari satu barang saya, berupa kotak kardus yang saya bungkus dengan kertas bagian belakang kalender yang berwarna putih, berisi perlengkapan tari Minang titipan teman saya, Leni. Setelah melihat dengan teliti, saya masih tidak melihat barang itu. Saya putuskan untuk bertanya pada petugas. Namun sebelum saya menemukan petugas, saya melihat tulisan “Odd shape baggage.” Saya segera mendekat ke situ, ternyata benar, saya melihat kotak kardus putih saya. Segera kami berjalan menuju pintu keluar. 

Di luar Leni dan suaminya Matthieu(baca: Machoi), yang warga Negara Belanda sudah menunggu kami. Matthieu membantu kami membawa koper kami ke mobil. Leni bercerita bahwa Matthieu sudah membawa mobilnya ke car wash, agar mobilnya bersih, special untuk menyambut kami. Saya perhatikan mobil di Eropa setirnya ada di sebelah kiri, berbeda dengan mobil di Indonesia. 

Leni bertanya apakah kami mau langsung pulang ke rumah Leni atau mau jalan-jalan dulu di Amsterdam? Kami jawab bahwa kami cukup tidur dan cukup fit untuk langsung jalan-jalan. Lalu Matthieu membawa kami ke Castle Muiderslot. Istana kecil ini berdinding batu dan dikelilingi oleh air ini merupakan peninggalan abad ke 7. Kata Leni, istana di Belanda nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan istana-istana di Prancis. Tapi saya tetap senang, karena bangunan ini unik. 

Selanjutkan kami melihat kanal-kanal di kota Amsterdam. Kami parkir dan pinggir jalan dan keluar, melihat jembatan yang berputar 90 derajat. Pada saat ada kapal yang akan lewat, jembatan itu berputar pada sumbunya yang berada di tengah kanal, sehingga posisi jempatan tersebut menjadi sejajar dengan arus air dan berada di tengah. Setelah kapal lewat, jembatan itu kembali bergerak dan berputar 90 derajat, sehingga posisinya kembali menjadi melintang, kembali rapat menyambung jalan. Orang-orang yang bersepeda dan mobil yang tadinya mengantri menunggu, langsung menyeberang di jembatan tersebut. Kami sangat terpesona dengan teknologi tersebut. Setelah mengambil foto-foto di pinggir kanal, kami memutuskan untuk langsung ke rumah Leni di Ede. Matthieu membawa kami melalui jalan biasa, bukan jalan tol, agar kami dapat menikmati pemandangan dari Amsterdam ke Ede. 

Pemandangan yang kami lihat di sepanjang jalan sangat indah. Rumah-rumah penduduk dengan halamannya yang berbunga-bunga, tanah pertanian, sapi yang sedang merumput, kanal-kanal dan sungai-sungai dan kincir angin kuno. Matthieu menjelaskan kepada kami bagaimana membedakan kanal dengan sungai.  Ada beberapa kanal yang kami lewati, permukaan airnya lebih tinggi dari permukaan daratan, namun dibatasi oleh tanggul. Matthieu juga menjelaskan bahwa kincir angin kuno adalah teknologi yang sudah sangat tua, yang fungsinya memompa air, sehingga daratan tidak tergenang air. 

Ede adalah kota kecil yang sangat nyaman. Penduduknya tidak padat, rumah-rumahnya hampir sama ukurannya dan hampir sama arsitekturnya. Hampir semua rumah memiliki dinding bata. Semua halaman rumah memiliki bunga-bunga yang sangat cantik. Saya berpendapat orang Belanda sangat suka bunga. Kebetulan saat itu bulan Juli, musim panas. Walaupun mereka hanya bisa menikmati bunga sekitar setengah tahun saja, tapi mereka memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati bunga. Bunga yang sedang musim namanya bunga hortensia, karena bunga tersebut yang sedang mendominasi halaman rumah-rumah di Belanda. Tidak banyak mobil yang lewat di jalan-jalan, kebanyakan orang mengendarai sepeda. Jalur sepeda disediakan di antara jalan untuk mobil dan trotoar untuk pejalan kaki. Halaman depan rumah mereka tidak terlalu luas, namun biasanya mereka memiliki halaman belakang yang luas yang juga ditanami bunga-bunga dan rumput. 

Kami sampai di rumah Leni sekitar jam 14.00. Kesan pertama kami saat melihat kediaman Leni, suasananya sangat tenang dan damai. Lantainya kayu, dan jendela kaca besar yang menghadap ke jalan. Sebuah piano bersandar di dinding.  Leni memasak nasi untuk makan siang kami. Setelah makan siang, kami mengobrol santai. 

Sore harinya, Helena, anak perempuan Leni satu-satunya pulang dari sekolah. Setiap hari ia pulang dan berangkat sekolah naik sepeda. Selama tiga hari ke depan ia akan menginap di rumah neneknya, kami kamarnya kami tempati. 


Jam 19.00 hari masih sangat terang, seperti jam 16 kalau di Indonesia. Leni mengajak saya jalan-jalan keliling Ede. Kami berkeliling naik mobil di seputaran kota Ede sampai ke pinggiran kota. Kami mampir di dekat sebuah peternakan domba untuk berolah raga jalan sore serta untuk menghangatkan badan karena udara masih dingin. Di lapangan rumput yang luas domba-domba asyik merumput. Jam 21.00 kami kembali ke mobil dan meluncur ke rumah Leni. Jam 22.00 saya sudah sangat mengantuk, karena perbedaan waktu Indonesia dan Belanda yang 5 jam, maka di Indonesia saat itu sudah jam 03.00 pagi. Saya kedinginan malam itu, untung saja Leni menyediakan selimut yang tebal. 

Keesokan harinya, yaitu hari ke dua di Ede, Matthieu mengajak kami ke museum, yaitu Kröller-Müller Museum. Kata Leni Matthieu punya akses gratis masuk ke musemum tersebut. Kami berangkat dari rumah jam 09.30 pagi dengan mobil Matthieu.  


Kröller-Müller adalah museum nasional seni dan taman patung yang berlokasi the Hoge Veluwe National Park, di Otterlo. Museum ini didirikan oleh kolektor barang-barang seni, yaitu Helene Kröller-Müller dan mulai dibuka tahun 1938. Ketika kami sampai di gerbangnya Matthieu hanya melambaikan tangan dan menunjukkan sebuah kartu pada petugasnya. Petugas hanya balas melambai dan mempersilahkan kami masuk. Saya bertanya ke Matthieu kenapa dia bisa dapat akses kartu gratis ke museum ini. Jawabnya ia pernah mengerjakan sebuah proyek untuk museum ini. 



Di halaman museum ini sudah terdapat beberapa karya seni modern. Lalu kami masuk ke bangunan museum. Pertama-tama kami melihat-lihat lukisan dan patung-patung di dalam museum. Ada banyak lukisan Vincent Van Gogh di museum ini yang disusun berdasarkan waktu pembuatannya, serta banyak seniman lainnya seperti Pablo Picasso, Claude Monet, dan lain-lain.  Kami lanjutkan ke halaman belakang museum yang sangat luas. Di halaman belakang ini kami melihat-lihat karya seni patung modern yang tersebar di area seluas 25 hektar. Namun karena kami sudah capek dan lapar, kami tidak sanggup menelusuri seluruh area. Kami mampir di café di halaman belakang yang beratapkan tenda berwarna putih. 



Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan perjalanan ke sebuah istana kecil. Lalu kami melalui perkebunan buah-buahan. Saya sangat kagum dengan pertanian di negeri belanda ini. Di tanah pertanian yang luasnya sejauh mata memandang, tanaman berbaris rapi, tidak tampak banyak petani yang bekerja, hanya ada satu atau traktor yang bergerak perlahan-lahan. Di sepanjang jalan kami banyak melihat kebun anggur, ceri, pir dan apel. 




Kami berhenti dipinggir jalan di kios yang menjual buah ceri segar. Di samping kios itu ada kebun ceri yang dalam bahasa Belanda disebut kersen, yang pohonnya berbuah lebat. Saya takjub sekali melihat buah ceri berwarna merah dan merah hati bergelantungan di pohonnya yang rendah, yang tingginya hanya sekitar dua sampai tiga meter. Di Indonesia tidak pernah saya melihat ada pohon ceri. Lalu kami ke kios petani tersebut dan membeli 2 pak buah ceri segar. Harga satu pak 5 Euro. Buah itu kemasannya berupa kotak dari plastik yang diisi 2 kg ceri. Petani tersebut tidak menyediakan kantong plastik untuk kami, seperti para pedagang di Indonesia. Saya coba buah ceri yang kami beli, dan rasanya segar, juicy rasa asam manis yang sangat saya sukai. Di sepanjang jalan pulang saya ngemil buah ceri.
Sesampainya di rumah Leni, saya berusaha untuk tidur siang, namun tidak bisa, saya hanya rebahan memejamkan mata. Yang penting sempatkan untuk beristirahat.  Leni ada janji bertemu beberapa mahasiswa di kampus Universitas Wageningen jam 21.00 dan saya ingin ikut. Leni bersama perkumpulan  mahasiswa Indonesia  di kampus Universitas Wageningen akan mengadakan acara kampanye budaya Indonesia. Nama acaranya Pesona Indonesia yang akan diadakan di bulan Oktober nanti. Mereka akan menampilkan tari-tarian, musik, batik mode show dan stand yang berjualan makanan khas Indonesia. Malam ini Leni berjanji untuk bertemu para modelnya untuk menjelaskan konsep dari batik mode show.
Jam 20.30 kami berangkat dengan mobil Leni ke kampus Wageningen University. Kami parkir di samping gedung 102, Forum. Karena perlu id card untuk membuka pintu agar kami bisa masuk. Kami menunggu sampai ada mahasiswa yang masuk dan mengikutinya. Bersamaan dengan kami masuk, ikut nebeng juga masuk bersama kami seorang pemuda berdarah India yang tampan. Kami menunggu di bangku-bangku yang tersedia di lobby gedung tersebut. Tidak lama kami menunggu, datang mendekati kami dua pemuda berdarah India, salah satunya yang masuk nebeng bersama kami tadi, dan seorang gadis cantik berkerudung, yang jelas sekali berdarah Arab. Rupanya mereka adalah para model yang janji bertemu Leni. Setelah kami berbincang-bincang dan saling berkenalan dalam bahasa Inggris, karena mereka tidak bisa berbahasa Belanda, barulah kami ketahui bahwa gadis itu berasal dari Turki. Tapi saya tidak bisa menangkap satu pun nama mereka karena sangat tidak familiar di telinga saya. Pertemuan itu selesai sudah lewat dari jam 22.00. Mereka berjanji akan saling kontak lagi via Whatsapp dan email. 


Di luar masih terang tapi sudah agak redup, seperti jam 17.45 di Indonesia. Kami sempatkan untuk foto-foto sebentar di luar kampus sebelum lanjut pulang. 

Hari Sabtu, yaitu hari ke 3 di Ede, Leni akan mengajak kami mengunjungi kota Utrecht. Kami berangkat dari rumah jam 09.00. Kami naik mobil ke Bunnik, lalu Leni memarkir mobilnya di dekat stasiun Bunnik. Menurut Leni sulit mencari parkir di kota dan ongkos parkirnya sangat mahal. Lebih baik kami parkir di pinggir kota dan nyambung naik kereta ke Utrecht. Saya kagum dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Belanda untuk rakyatnya. Di stasiun kecil tersebut, disediakan ruangan kotak yang berdinding dan beratap kaca untuk melindungi calon penumpang dari udara dingin.  Keretanya pun sangat nyaman. 

Sesampainya di stasiun Utrecht, kami keluar mencari bus untuk pergi ke museum kereta api atau Spoorweg museum. Kami tidak bisa membeli tiket langsung ke supir bis, sehingga Leni harus naik kembali ke stasiun untuk membeli tiket bis. Tiket yang Leni dapat adalah one day ticket, sehingga kami boleh naik bis tersebut seharian berulang-ulang seharga 6 Euro. Lalu kami naik bis dan berhenti tidak jauh dari museum tersebut, namun kami harus berjalan kaki sekitar 250 meter.   



Sesampainya di museum itu, pertama yang kami cari adalah toilet. Toiletnya sangat menarik, bergaya kuno dengan keramik lantai motif bunga-bunga dan seat toilet lebar terbuat dari kayu. Lalu saya mengantri tiket, yang harganya 17 Euro. Waktu saya menyodorkan uang 500 euro, petugasnya kaget dan mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima uang sebesar itu. Lalu saya masukkan kembali uang tersebut ke domper dan mengeluarkan uang 100 Euro. Selama transaksi petugas berkulit hitam itu mengajak saya mengobrol. Dia menanyakan asal saya, dan ketika saya katakana saya berasal dari Indonesia, dia langsung antusias dan menceritakan bahwa Indonesia sangat Indah, dia sudah pernah ke Indonesia, ke Yogya, Bali dan Lomba. Tahun ini dia berencana ke Indonesia lagi, ke Danau Toba, lanjut terus ke Bali dan Lombok. Untung saja di belakang saya tidak ada yang antri. Dia juga menyarankan pada saya untuk menukarkan uang 500 Euro tersebut di Bank. Tidak akan ada toko/restoran yang mau menerima uang sebesar itu, katanya. 

Saya ucapkan terima kasih dan mengatakan padanya ternyata itulah penyebabnya mengapa nilai tukar uang 500 Euro lebih murah dari pada uang 100 Euro  ke rupiah. Lalu kami masuk ke museum. Di dalam museum kami melihat macam-macam lokomotif dan gerbong kereta di zaman kuno. Kata Syifa, museum ini sangat mirip dengan museum transportasi di Malang. Di museum ini kami juga melihat rangkaian teknologi kereta api kuno, hingga teknologi kereta api terbaru. Saya berpikir, pantas saja anak-anak Belanda pinter-pinter, karena mereka dapat belajar teknologi di museum-museum. 



Setelah tengah hari, kami mulai lapar dan keluar dari museum. Di luar Leni bertanya pada petugas keamanan dengan bahasa Belanda, di mana kami naik bis bila ingin ke Utrecht Central. Petugas itu menyarankan pada kami untuk berjalan kaki saja karena tidak jauh. Lalu kami berjalan kaki sembari mengambil foto-foto. Jalan-jalan menuju Utrecht Cental sangat menarik, karena banyak tiang-tiang yang dihiasi bunga-bunga gantung yang berwarna-warni. Jalan-jalan sangat bersih, tersedia jalur pejalan kaki serta jalur sepeda, rumah-rumah berderet rapi dengan dinding-dinding bata. Di pinggir jalan berderet tiang-tiang lampu yang diberi pot gantung yang ditanami bunga berwarna warni, paduan bunga berwarna merah dan merah muda. Lalu kami melewati kanal-kanal yang di pinggirnya diberi pagar besi. Pagar-pagar itu ditempeli oleh sepeda-sepeda yang parkir. Rupanya sepeda juga merupakan alat transportasi utama di Utrecht. Di beberapa bagian kanal ada tangga untuk turun ke bawah, ke bantaran kanal. Di bantaran itu banyak terdapat café-café yang dipenuhi oleh pengunjung. 





Setelah cukup jauh berjalan kami bertemu dengan katedral, kami masuk ke katedral tersebut, di halaman dalamnya terdapat taman-taman dengan bunga-bunga berwarna-warna. Ada sepasang pengantin yang sedang berfoto. Setelah keluar dari katedral itu, kami mulai banyak menemukan toko-toko dan restoran. Kami mulai mencari-cari cafe untuk makan siang. Akhirnya kami menemukan sebuah café penjual kebab. Kelihatannya enak. Kami putuskan untuk makan di situ, dan memilih duduk di luar. Kebabnya lumayan enak. Setelah makan kami melihat-lihat di toko souvenir. Lalu karena ingin makan dan minum yang manis-manis, kami masuk ke café dan toko coklat.


Menjelang sore kami putuskan untuk kembali ke stasiun kereta dan kembali pulang ke Ede dengan naik kereta. Peron kereta di Utrecht bagus sekali, atapnya berdesain modern dan sangat bersih. Menurut saya, peron stasiun di Utrehct ini peron stasiun kereta yang paling bagus yang pernah saya datangi. Kami sampai di rumah sekitar jam 4 sore. 


Jam 6 sore, Leni mengajak saya berjalan kaki ke rumah temannya untuk berbagi oleh-oleh. Kami kembali berjalan pulang sekalian berolah raga dan melihat-lihat keindahan bunga-bunga di halaman tetangga-tetangga Leni. Pada saat kami sampai di depan rumah, Matthieu datang dengan mobilnya, lalu  mengajak kami untuk makan es krim di pusat kota Ede. 






Hari Minggu jam 09.00 kami sudah berangkat dari rumah Leni menuju Amsterdam. Namun sebelumnya kami mampir dulu ke rumah Ibu Matthieu untuk menjemput Helena yang menginap di sana. Ibu Matthiew sudah berumur 86 tahun, namun masih cantik, sehat, fit, mandiri dan masih naik sepeda kemana-mana. Ia tinggal sendiri di rumahnya yang cantik. Ia berasal dari Swiss, maka selain mampu berbicara bahasa Belanda, ia juga  bahasa Jerman. Waktu kami sampai di rumahnya ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke gereja. 

Setelah Mama Mattheiu berangkat, Helena bergabung dengan kami di mobil Matthieu dan meluncur ke Amsterdam. Helena ikut dengan kami karena ia mau berbelanja pakaian. Perjalanan kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Kami mampir dulu ke rumah Kakak Matthieu, yaitu Margaret. Di rumah Margaret kami mengobrol sebentar, dan ia menyuguhi kami strawberry cake yang lezat. Lalu suami Margaret mengantar kami ke Rijksmuseum, museum nasional di Amsterdam, sedangkan Matthieu tinggal di rumah Margaret karena membantu Margaret untuk membuat rak, sedangkan Helena akan pergi belanja dengan Margaret dan anak perempuannya. 



Kami tidak lama menikmati arsitektur Rijksmuseum yang indah dari luar. Kami segera antri membeli tiket. Leni membantu saya antri membeli tiket, dan saya pergi ke toko souvenir melihat-lihat. Saya tidak membeli karena kata Leni lebih murah beli souvenir di Volendam. Leni mengantri hampir 15 menit, setelah mendapat tiket kami langsung masuk ke lantai 2 ke bagian lukisan. Tujuan pertama kami adalah melihat lukisan Rembrand, Night Watch yang spektakuler. Saya yang memang penggemar seni sungguh terpesona dengan hasil karya para seniman 1600-1800 ini. Saya kagum sekali betapa Rembrand mampu melukis renda emas benar-benar mirip seperti aslinya. Saya menelusuri keempat lantai museum ini, mengagumi karya-karya seni berupa lukisan dan patung-patung. 


Sekitar jam 14.00 kami mulai lapar dan keluar dari museum. Kami berjalan menelusuri jalan-jalan dan pertokoan. Tak lama kami berjalan Syifa bertemu dengan temannya di sekolah. Memang banyak sekali orang Indonesia yang berwisata ke Eropa pada liburan musim panas. Setelah kembali berjalan, akhirnya kami menemukan café yang cukup nyaman dan makan siang di sana.
Setelah makan kami kembali berjalan kaki menelusuri jalan-jalan dan pertokoan, menyeberangi kanal-kanal. Kanal di Belanda lebih besar dari pada kanal-kanal di Utrecht. Jembatan yang menyebrangi kanal dihiasi oleh pot-pot bunga berwarna-warni. Di kanal-kanal itu banyak perahu/boat yang parkir. Banyak booth yang menawaran wisata kanal dan boat. 

Jalanan sangat ramai oleh pejalan kaki maupun pesepeda  yang melintas, dan mereka sangat ngebut. Saking banyaknya pengguna sepeda, bahkan mobil sangat sulit untuk lewat. Sepeda yang digunakan seperti sepeda ontel, tinggi. Akhirnya kami sampai di Damsquare, yaitu lapangan atau alun-alun di pusat kota Amsterdam, tempat orang-orang banyak berkumpul, ada burung-burung merpati bermain di lapangan tersebut. Lapangan ini tidak berumput, tapi berlantai tembok dan dikelilingi bangunan Royal Palace, New Church, Museum Madam Tussaud dan pilar putih National monument. Royal Palace dan New Church merupakan bangunan-bangunan indah dengan arsitektur klasik khas Eropa. 



Sekitar jam 18.00 kami pulang ke rumah Margareth dengan naik becak khas Amsterdam. Becaknya cukup membawa penumpang 3 orang, jadi pas banget membawa saya, Syifa dan Leni. Kami cukup bingung mencari rumah Margareth, Leni harus pakai Google map dulu. Rumah Margareth ada dilantai 2  sampai lantai 4. Hank, suaminya mengajak kami ke atap lantai 4, untuk melihat pemandangan di sekitar rumahnya dari atas atap. Kebanyakan rumah-rumah di Belanda memang berbentuk ruko dua, tiga atau 4 lantai. Hank menanam bunga-bunga dalam pot di atap tersebut. Bunga-bunga tersebut tumbuh subur karena mendapat cukup cahaya. Hank mengaku dia yang menyiram dan merawat tanaman tersebut. Jam 19.30 meninggalkan rumah Margareth menuju penginapan saya berikutnya di Gorstraat 18.1068 VX. Leni dan Matthieu agak khawatir meninggalkan kami di sana, namun saya yakinkan mereka bahwa kami akan baik-baik saja. 


Rumah ini milik Pak Warta, orang Indonesia yang tinggal di Amsterdam. Pak Warta biasa menyewakan rumahnya untuk turis-turis dari Indonesia. Saya dapat info tentang rumah Pak Warta dari website Serbalanda. Sebelum saya berangkat ke Eropa saya sudah kontak Pak Warta, dan booking satu kamar. Saya membayar 30 Euro permalam perorang, sudah termasuk sarapan. Gorstraat ini ada di pinggiran kota Amsterdam, banyak dihuni oleh keturunan Timur Tengah. Namun rumah Pak Warta cukup strategis, karena dekat dengan perhentian terakhir trem nomor 11. Hanya berjalan kaki sekitar 5 menit. Rumahnya sangat bersih, ada wifi dan Pak Warta dan keluarga sangat ramah.
Waktu saya sampai, sekitar jam 20.00, Pak Warta dan istrinya sedang bekerja shift sore. Pak Warta bekerja sebagai chef di restoran sushi, dan istri Pak Warta bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Kami disambut oleh adik perempuan Pak Warta dan anak perempuannya yang berusia 5 tahun dan anak laki-lakinya yang lucu berusia 7 bulan. Setelah bermain sebentar dengan anak-anak Pak Warta, kami naik ke kamar kami di lantai 2, mandi, dan beristirahat. Udara di Amsterdam malam ini cukup hangat, sehingga saya dapat tidur dengan nyenyak. 


Keesokan harinya, saya menerima pesan via whatsapp dari Pak Eka Tanjung dari Serbalanda. Saya memesan tour Zaanse Schans, Giethoorn dan Volendam melalui website Serbalanda, beberapa hari sebelum keberangkatan ke Eropa. Harganya 70 Euro perorang, di luar makan siang. Pak Eka Tanjung akan menjemput kami jam 9 pagi. Bangun tidur kami langsung bersiap-siap dan sarapan sambil menunggu jemputan. Pak Warta menyediakan sarapan roti, indomie, keju, salami, buah pisang, susu, teh dan kopi. Saya pilih makan roti dengan salami dan minum teh. 

Hampir jam 9.30 Pak Eka datang menjemput kami dengan mobil van. Di dalam mobil sudah ada 6 orang anggota tour, satu keluarga Indonesia, ayah, ibu dan empat orang anaknya yang remaja dan menjelang remaja. Van tersebut cukup nyaman dan memang berkapasitas 8 penumpang. Pak Eka mengajak kami mampir dulu ke super market untuk berbelanja snack dan minuman. Setelah berbelanja, ternyata salah seorang anggota tour ada yang ingin ke toilet, sedangkan supermarket itu tidak menyediakan toilet, maka saya sarankan kami balik lagi ke rumah Pak Warta yang belum jauh.
Tujuan kami yang pertama adalah Zaanse Schans, yang kami tempuh dalam waktu sekitar 30 menit.  Zaanse Schans adalah gambaran desa Belanda abad ke 17-18. Desa ini terletak di pinggir sungai Zaan dan terdapat banyak kincir angin yang masih beroperasi dan rumah-rumah dari kayu yang cantik, serta lahan pertanian. Waktu kami datang saya terpesona dengan pemandangan kincir-kincir anginnya. Lalu di lahan pertanian saya lihat ada bola-bola besar. Lalu Pak Eka menjelaskan bahwa bola-bola itu adalah rumput yang dipotong di musim panas, lalu diawetkan dengan digulun-gulung, untuk persediaan makanan ternak di musim dingin nanti. Dengan teknologi tertentu, pada saat dibuka nanti rumput tersebut masih segar. Wow, teknologi pertanian di Belanda sungguh maju. 


Saya melihat sekelompok pelukis sedang melukis kincir-kincir angin yang bertebaran dengan sangat indah berpadu dengan kebun rumput, rumah-rumah kayu dan sungai. Lukisan mereka pun indah seperti pemandangan aslinya. 


Kami masuk bangunan kayu untuk melihat demo pembuatan kelom dari kayu. Hanya dalam waktu 3 menit, mesin pembuat kelom mampu menghasilkan sebuah kelom. Setelah melihat demo, kami menuju ruangan yang menjual souvenir, berupa kelom, gantungan kunci, tatakan gelas, nampan, tempelan kulkas, dan lain-lain. Lalu kami keluar dan berjalan menuju bangunan rumah kayu lainnya. Rupanya di dalamnya adalah toko yang menjual keju. Para turis diperbolehkan mencicipi berbagai macam jenis keju. Saya sempat tergoda untuk membeli keju yang enak banget, namun saya urungkan karena mengingat perjalanan saya masih panjang dan kejunya cukup berat. 


Lalu kami lanjut ke Volendam, ke sebuah desa Nelayan yang indah dengan rumah-rumah kayu khas Belanda zaman dulu. Jalan-jalannya berupa conblok. Di pelabuhan banyak perahu yang dtambatkan. Kami pergi ke pusat keramaian desa itu, di kiri kanan kami banyak toko-toko souvenir, penginapan, café  dan restoran. Semua rumah-rumah, hotel dan toko tersebut sangat indah berhiaskan bunga-bunga. Kami masuk ke restoran yang menjual wafell, Syifa memesan sebuah wafell dan saya pergi ke luar untuk mencari makanan yang agak berat. Saya menemukan banyak booth yang menjual ikan goreng, seperti ikan tuna yang dipotong-potong, lalu digoreng, namanya kibeling. Saya pilih ikan goreng yang paket nasi yang mirip nasi kebuli. Ikan goreng saya, saya bawa ke restoran wafel dan makan bersama Syifa.  Boleh dibilang, makanan kami murah meriah, wafel Syifa Cuma 4 Euro dan kibeling saya hanya 7 Euro. Setelah selesai makan kami berbelanja oleh-oleh. Di Volendam ternyata memang murah berbelanja souvenir. Lalu terakhir kami pergi ke kios tempat berfoto dengan pakaian khas Belanda.  Pakaian berupa dress dengan celemek dan topi kerucut warna putih.
Sekitar jam 14.00 kami kembali ke Amsterdam. Pak Eka Tanjung membawa kami ke restoran Indonesia, warung Atikah untuk makan siang. Porsi makanan yang disuguhkan sangat besar, paket nasi dengan sayur dan satu macam lauk harganya sekitar 12 Euro.  

Dari Warung Atikah kami melanjutkan perjalanan kami ke desa unik, yaitu Giethoorn, yang cukup jauh dari Amsterdam. Perjalanan kami sekitar 1,5 jam untuk sampai di desa yang tidak ada jalan untuk mobil tersebut. Kami sampai sudah jam 19.00. Tempat itu sudah sepi dan langit kelihatan agak mendung. Pak Eka memesan perahu yang beratap untuk kami, untuk berjaga-jaga jika hujan. Perahunya besar, yang kapasitasnya bisa 20 orang, jendela kacanya bisa dibuka ke arah dalam, ke arah langit-langit perahu, sehingga pemandangan kami tetap leluasa, namun kepala kami akan terlindungi bila terjadi gerimis. Perahu yang dinahkodai oleh seorang anak muda ini bertenaga motor, namun suara mesinnya lembut, tidak berisik.

Perahu kami meluncur perlahan di jalur air kecil atau kanal yang lebarnya sekitar 4 meter, yang menjadi pengganti jalan aspal di desa ini, melewati rumah-rumah warga desa yang desainnya seperti rumah tempo dulu. Rumah-rumah tersebut beratapkan jerami, dengan halaman rumput yang terawat rapi dengan bunga-bunga indah yang sedang bermekaran. Alat transportasi di dalam desa itu adalah perahu. Lalu ada juga jalan-jalan kecil untuk pejalan kaki dan jembatan kayu yang menghubungkan rumah dengan rumah di seberangnya. Ada 170 lebih jembatan kayu di desa tersebut. Jembatan tersebut melengkung ke atas, sehingga perahu bisa lewat di bawahnya. Suasana sangat tenang dan damai, hanya suara tour guide kami yang menceritakan sejarah desa tersebut. Bahkan suara mesin perahu kami pun tidak berisik. Kami hanya terdiam mengagumi keindahan dan damainya suasana di Giethoorn ini. 

Lalu perahu kami keluar dari desa, kami melintasi danau. Di danau tersebut banyak burung yang mengikuti perahu kami. Ternyata Pak Eka Tanjung sudah menyiapkan roti untuk memberi makan buru-burung tersebut, sehingga mereka terus mengikuti kami. Saya takjup melihat petapa gesitnya burung-burung tersebut mematuk roti yang dilempar ke air, hanya dalam hitungan detik. Kami berperahu sekitar satu jam. Setelah melintasi danau kami kembali masuk ke desa dan trip kami berakhir di tempat kami mulai.
Pak Eka Tanjung mengantarkan kami ke penginapan masing-masing. Sebelum sampai kami mampir di KFC untuk membeli bekal untuk makan malam. Kami sampai di penginapan sekitar jam 21.00. Kami langsung mandi dan beristirahat. 
Keesokan harinya kami keluar tidak terlalu pagi. Seperti hari sebelumnya, Pak Warta menyediakan kami sarapan roti tawar, salami, berbagai macam selai, keju lembaran, Popmie, dengan minuman teh, kopi dan susu. Pak Warta juga mengantar kami membeli kartu untuk naik trem yang berlaku 24 jam. Karena saya bercerita ke Pak Warta bahwa saya suka tanaman, maka Pak Warta mengusulkan saya untuk melihat toko tanaman dan perlengkapan kebun dan rumah yang sangat besar di Amsterdam. Nama tokonya Tuin Centrum Osdorp, tidak jauh dari rumah Pak Warta di Gorstraat. Tokonya luas sekali seperti gudang raksasa, menjual segala macam bunga-bungaan, bibit pohon-pohon, tanaman-tanaman berdaun indah yang banyak terdapat di Indonesia juga dijual di sini, berbagai macam pakis, palem, aglonema, daln lain-lain. Perlengkapan kebun, camping dan dekorasi rumah, tanaman plastik juga dijual di sini. Toko ini gabungan antara Ikea, Ace Hardware dan Mitra 10 bila di Indonesia. Saya hanya membeli bibit tanaman matahari sachetan, yang kira-kira ringan untuk dibawa ke Indonesia. Namun kami harus berjalan dulu mengelilingi toko, melihat semua barang dagangannya barulah kami sampai di kasir. 

Keluar dari Tuin Centrum Osdorp, kami hanya berjalan kaki sedikit untuk sampai di perhentian trem. Lalu kami naik trem sampai ujung, yaitu stasiun central, yang dekat dengan Dam Square. Kami bermaksud untuk pergi ke Den Haag. Kami beli tiket di mesin tiket dengan kartu kredit. Kami naik kereta Sprinter dari Amsterdam ke Den Haag. Keretanya bagus dan ada wifi gratis. Di Den Haag kami turun lalu berjalan kaki menuju Binnehof. Di sepanjang jalan terdapat gedung-gedung perkantoran modern. Kami membeli simcard dari Lica yang katanya bisa dipakai di Negara Eropa lainnya. Lega banget akhirnya bisa online di perjalanan. Sore kami kembali naik kereta ke Amsterdam. Karena Syifa sakit kepala, kami langsung pulang lagi ke rumah Pak Warta.  Malamnya kami mulai mengepak-ngepak barang karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan ke Brussel, ibukota Belgia.

1 comment:

  1. Senang sekali membaca pengalaman tetamu usai jalan dengan Serbalanda Tour untuk wisata sehari di Belanda. Semoga berkesan dan semoga kita bisa dipertemukan kembali dalam kondisi dan situasi yang lebih baik lagi dari hari ini. Terima Kasih untuk tulisannya yang menarik. Salam, Eka Tanjung dari Serbalanda.

    ReplyDelete