JALAN-JALAN KE EROPA
Jalan-jalan ke Belanda
Kami berangkat naik pesawat
Garuda dan bandara Sukarno Hatta terminal 3. Saya senang karena ini pertama
kali saya terbang melalui terminal 3 ini, karena biasanya naik budget air line. Hehehe… Tiket kami jam
21.05, maka kami datang ke bandara sekitar jam 18.00. Kami sempat makan malam
dulu di bandara. Di terminal 3, pengantar bisa masuk sampai ke tempat check
in, maka suami saya bisa mengantar kami
sampai ke pintu untuk boarding. Kami sempatkan untuk sholat dulu di ruang
tunggu sebelum masuk ke pesawat. Kami transit selama 40 menit di Changi,
Singapura, lalu terbang selama 9 jam lagi ke Amsterdam. Saya senang sekali
terbang dengan Garuda, karena walaupun terbang malam, tapi tetap bolak-balik
ditawari makanan. Karena kenyang, saya yang biasanya sulit tidur di pesawat,
akhirnya bisa tidur nyenyak.
Kami tiba di Amsterdam jam 08.30
waktu Amsterdam. Saya sempat bingung mencari satu barang saya, berupa kotak
kardus yang saya bungkus dengan kertas bagian belakang kalender yang berwarna
putih, berisi perlengkapan tari Minang titipan teman saya, Leni. Setelah
melihat dengan teliti, saya masih tidak melihat barang itu. Saya putuskan untuk
bertanya pada petugas. Namun sebelum saya menemukan petugas, saya melihat
tulisan “Odd shape baggage.” Saya segera mendekat ke situ, ternyata benar, saya
melihat kotak kardus putih saya. Segera kami berjalan menuju pintu keluar.
Di luar Leni dan suaminya
Matthieu(baca: Machoi), yang warga Negara Belanda sudah menunggu kami. Matthieu
membantu kami membawa koper kami ke mobil. Leni bercerita bahwa Matthieu sudah
membawa mobilnya ke car wash, agar mobilnya bersih, special untuk menyambut
kami. Saya perhatikan mobil di Eropa setirnya ada di sebelah kiri, berbeda
dengan mobil di Indonesia.
Leni bertanya apakah kami mau
langsung pulang ke rumah Leni atau mau jalan-jalan dulu di Amsterdam? Kami
jawab bahwa kami cukup tidur dan cukup fit untuk langsung jalan-jalan. Lalu
Matthieu membawa kami ke Castle Muiderslot. Istana kecil ini berdinding batu
dan dikelilingi oleh air ini merupakan peninggalan abad ke 7. Kata Leni, istana
di Belanda nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan istana-istana di
Prancis. Tapi saya tetap senang, karena bangunan ini unik.
Selanjutkan kami melihat
kanal-kanal di kota Amsterdam. Kami parkir dan pinggir jalan dan keluar,
melihat jembatan yang berputar 90 derajat. Pada saat ada kapal yang akan lewat,
jembatan itu berputar pada sumbunya yang berada di tengah kanal, sehingga
posisi jempatan tersebut menjadi sejajar dengan arus air dan berada di tengah.
Setelah kapal lewat, jembatan itu kembali bergerak dan berputar 90 derajat, sehingga
posisinya kembali menjadi melintang, kembali rapat menyambung jalan.
Orang-orang yang bersepeda dan mobil yang tadinya mengantri menunggu, langsung
menyeberang di jembatan tersebut. Kami sangat terpesona dengan teknologi
tersebut. Setelah mengambil foto-foto di pinggir kanal, kami memutuskan untuk
langsung ke rumah Leni di Ede. Matthieu membawa kami melalui jalan biasa, bukan
jalan tol, agar kami dapat menikmati pemandangan dari Amsterdam ke Ede.
Pemandangan yang kami lihat di sepanjang jalan sangat indah.
Rumah-rumah penduduk dengan halamannya yang berbunga-bunga, tanah pertanian,
sapi yang sedang merumput, kanal-kanal dan sungai-sungai dan kincir angin kuno.
Matthieu menjelaskan kepada kami bagaimana membedakan kanal dengan sungai. Ada beberapa kanal yang kami lewati, permukaan
airnya lebih tinggi dari
permukaan daratan, namun dibatasi oleh tanggul. Matthieu juga menjelaskan bahwa
kincir angin kuno adalah teknologi yang sudah sangat tua, yang fungsinya
memompa air, sehingga daratan tidak tergenang air.
Ede adalah kota kecil yang sangat
nyaman. Penduduknya tidak padat, rumah-rumahnya hampir sama ukurannya dan
hampir sama arsitekturnya. Hampir semua rumah memiliki dinding bata. Semua
halaman rumah memiliki bunga-bunga yang sangat cantik. Saya berpendapat orang
Belanda sangat suka bunga. Kebetulan saat itu bulan Juli, musim panas. Walaupun
mereka hanya bisa menikmati bunga sekitar setengah tahun saja, tapi mereka
memanfaatkan waktu tersebut untuk menikmati bunga. Bunga yang sedang musim
namanya bunga hortensia, karena bunga tersebut yang sedang mendominasi halaman
rumah-rumah di Belanda. Tidak banyak mobil yang lewat di jalan-jalan,
kebanyakan orang mengendarai sepeda. Jalur sepeda disediakan di antara jalan
untuk mobil dan trotoar untuk pejalan kaki. Halaman depan rumah mereka tidak
terlalu luas, namun biasanya mereka memiliki halaman belakang yang luas yang
juga ditanami bunga-bunga dan rumput.
Kami sampai di rumah Leni sekitar
jam 14.00. Kesan pertama kami saat melihat kediaman Leni, suasananya sangat
tenang dan damai. Lantainya kayu, dan jendela kaca besar yang menghadap ke
jalan. Sebuah piano bersandar di dinding. Leni memasak nasi untuk makan siang kami. Setelah
makan siang, kami mengobrol santai.
Sore harinya, Helena, anak
perempuan Leni satu-satunya pulang dari sekolah. Setiap hari ia pulang dan
berangkat sekolah naik sepeda. Selama tiga hari ke depan ia akan menginap di
rumah neneknya, kami kamarnya kami tempati.
Jam 19.00 hari masih sangat
terang, seperti jam 16 kalau di Indonesia. Leni mengajak saya jalan-jalan
keliling Ede. Kami berkeliling naik mobil di seputaran kota Ede sampai ke
pinggiran kota. Kami mampir di dekat sebuah peternakan domba untuk berolah raga
jalan sore serta untuk menghangatkan badan karena udara masih dingin. Di
lapangan rumput yang luas domba-domba asyik merumput. Jam 21.00 kami kembali ke
mobil dan meluncur ke rumah Leni. Jam 22.00 saya sudah sangat mengantuk, karena
perbedaan waktu Indonesia dan Belanda yang 5 jam, maka di Indonesia saat itu
sudah jam 03.00 pagi. Saya kedinginan malam itu, untung saja Leni menyediakan
selimut yang tebal.
Keesokan harinya, yaitu hari ke
dua di Ede, Matthieu mengajak kami ke museum, yaitu Kröller-Müller Museum. Kata
Leni Matthieu punya akses gratis masuk ke musemum tersebut. Kami berangkat dari
rumah jam 09.30 pagi dengan mobil Matthieu.
Kröller-Müller adalah museum
nasional seni dan taman patung yang berlokasi the Hoge Veluwe National Park, di
Otterlo. Museum ini didirikan oleh kolektor barang-barang seni, yaitu Helene
Kröller-Müller dan mulai dibuka tahun 1938. Ketika kami sampai di gerbangnya
Matthieu hanya melambaikan tangan dan menunjukkan sebuah kartu pada petugasnya.
Petugas hanya balas melambai dan mempersilahkan kami masuk. Saya bertanya ke
Matthieu kenapa dia bisa dapat akses kartu gratis ke museum ini. Jawabnya ia
pernah mengerjakan sebuah proyek untuk museum ini.
Di halaman museum ini sudah terdapat
beberapa karya seni modern. Lalu kami masuk ke bangunan museum. Pertama-tama
kami melihat-lihat lukisan dan patung-patung di dalam museum. Ada banyak
lukisan Vincent Van Gogh di museum ini yang disusun berdasarkan waktu
pembuatannya, serta banyak seniman lainnya seperti Pablo Picasso, Claude Monet,
dan lain-lain. Kami lanjutkan ke halaman
belakang museum yang sangat luas. Di halaman belakang ini kami melihat-lihat
karya seni patung modern yang tersebar di area seluas 25 hektar. Namun karena
kami sudah capek dan lapar, kami tidak sanggup menelusuri seluruh area. Kami
mampir di café di halaman belakang yang beratapkan tenda berwarna putih.
Setelah selesai makan siang, kami
melanjutkan perjalanan ke sebuah istana kecil. Lalu kami melalui perkebunan
buah-buahan. Saya sangat kagum dengan pertanian di negeri belanda ini. Di tanah
pertanian yang luasnya sejauh mata memandang, tanaman berbaris rapi, tidak
tampak banyak petani yang bekerja, hanya ada satu atau traktor yang bergerak
perlahan-lahan. Di sepanjang jalan kami banyak melihat kebun anggur, ceri, pir
dan apel.
Kami berhenti dipinggir jalan di
kios yang menjual buah ceri segar. Di samping kios itu ada kebun ceri yang
dalam bahasa Belanda disebut kersen, yang pohonnya berbuah lebat. Saya takjub
sekali melihat buah ceri berwarna merah dan merah hati bergelantungan di
pohonnya yang rendah, yang tingginya hanya sekitar dua sampai tiga meter. Di
Indonesia tidak pernah saya melihat ada pohon ceri. Lalu kami ke kios petani
tersebut dan membeli 2 pak buah ceri segar. Harga satu pak 5 Euro. Buah itu
kemasannya berupa kotak dari plastik yang diisi 2 kg ceri. Petani tersebut
tidak menyediakan kantong plastik untuk kami, seperti para pedagang di
Indonesia. Saya coba buah ceri yang kami beli, dan rasanya segar, juicy rasa asam manis yang sangat saya
sukai. Di sepanjang jalan pulang saya ngemil buah ceri.
Sesampainya di rumah Leni, saya
berusaha untuk tidur siang, namun tidak bisa, saya hanya rebahan memejamkan
mata. Yang penting sempatkan untuk beristirahat. Leni ada janji bertemu beberapa mahasiswa di
kampus Universitas Wageningen jam 21.00 dan saya ingin ikut. Leni bersama
perkumpulan mahasiswa Indonesia di kampus Universitas Wageningen akan
mengadakan acara kampanye budaya Indonesia. Nama acaranya Pesona Indonesia yang
akan diadakan di bulan Oktober nanti. Mereka akan menampilkan tari-tarian,
musik, batik mode show dan stand yang berjualan makanan khas Indonesia. Malam
ini Leni berjanji untuk bertemu para modelnya untuk menjelaskan konsep dari
batik mode show.
Jam 20.30 kami berangkat dengan
mobil Leni ke kampus Wageningen University. Kami parkir di samping gedung 102,
Forum. Karena perlu id card untuk membuka pintu agar kami bisa masuk. Kami
menunggu sampai ada mahasiswa yang masuk dan mengikutinya. Bersamaan dengan
kami masuk, ikut nebeng juga masuk bersama kami seorang pemuda berdarah India
yang tampan. Kami menunggu di bangku-bangku yang tersedia di lobby gedung
tersebut. Tidak lama kami menunggu, datang mendekati kami dua pemuda berdarah
India, salah satunya yang masuk nebeng bersama kami tadi, dan seorang gadis
cantik berkerudung, yang jelas sekali berdarah Arab. Rupanya mereka adalah para
model yang janji bertemu Leni. Setelah kami berbincang-bincang dan saling
berkenalan dalam bahasa Inggris, karena mereka tidak bisa berbahasa Belanda, barulah
kami ketahui bahwa gadis itu berasal dari Turki. Tapi saya tidak bisa menangkap
satu pun nama mereka karena sangat tidak familiar di telinga saya. Pertemuan
itu selesai sudah lewat dari jam 22.00. Mereka berjanji akan saling kontak lagi
via Whatsapp dan email.
Di luar masih terang tapi sudah
agak redup, seperti jam 17.45 di Indonesia. Kami sempatkan untuk foto-foto
sebentar di luar kampus sebelum lanjut pulang.
Hari Sabtu, yaitu hari ke 3 di
Ede, Leni akan mengajak kami mengunjungi kota Utrecht. Kami berangkat dari rumah
jam 09.00. Kami naik mobil ke Bunnik, lalu Leni memarkir mobilnya di dekat
stasiun Bunnik. Menurut Leni sulit mencari parkir di kota dan ongkos parkirnya
sangat mahal. Lebih baik kami parkir di pinggir kota dan nyambung naik kereta
ke Utrecht. Saya kagum dengan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah Belanda
untuk rakyatnya. Di stasiun kecil tersebut, disediakan ruangan kotak yang
berdinding dan beratap kaca untuk melindungi calon penumpang dari udara dingin. Keretanya pun sangat nyaman.
Sesampainya di stasiun Utrecht,
kami keluar mencari bus untuk pergi ke museum kereta api atau Spoorweg museum.
Kami tidak bisa membeli tiket langsung ke supir bis, sehingga Leni harus naik
kembali ke stasiun untuk membeli tiket bis. Tiket yang Leni dapat adalah one day ticket, sehingga kami boleh naik
bis tersebut seharian berulang-ulang seharga 6 Euro. Lalu kami naik bis dan
berhenti tidak jauh dari museum tersebut, namun kami harus berjalan kaki
sekitar 250 meter.
Sesampainya di museum itu,
pertama yang kami cari adalah toilet. Toiletnya sangat menarik, bergaya kuno
dengan keramik lantai motif bunga-bunga dan seat toilet lebar terbuat dari
kayu. Lalu saya mengantri tiket, yang harganya 17 Euro. Waktu saya menyodorkan
uang 500 euro, petugasnya kaget dan mengatakan bahwa dia tidak bisa menerima
uang sebesar itu. Lalu saya masukkan kembali uang tersebut ke domper dan
mengeluarkan uang 100 Euro. Selama transaksi petugas berkulit hitam itu
mengajak saya mengobrol. Dia menanyakan asal saya, dan ketika saya katakana
saya berasal dari Indonesia, dia langsung antusias dan menceritakan bahwa
Indonesia sangat Indah, dia sudah pernah ke Indonesia, ke Yogya, Bali dan
Lomba. Tahun ini dia berencana ke Indonesia lagi, ke Danau Toba, lanjut terus
ke Bali dan Lombok. Untung saja di belakang saya tidak ada yang antri. Dia juga
menyarankan pada saya untuk menukarkan uang 500 Euro tersebut di Bank. Tidak
akan ada toko/restoran yang mau menerima uang sebesar itu, katanya.
Saya ucapkan terima kasih dan
mengatakan padanya ternyata itulah penyebabnya mengapa nilai tukar uang 500
Euro lebih murah dari pada uang 100 Euro
ke rupiah. Lalu kami masuk ke museum. Di dalam museum kami melihat
macam-macam lokomotif dan gerbong kereta di zaman kuno. Kata Syifa, museum ini
sangat mirip dengan museum transportasi di Malang. Di museum ini kami juga
melihat rangkaian teknologi kereta api kuno, hingga teknologi kereta api
terbaru. Saya berpikir, pantas saja anak-anak Belanda pinter-pinter, karena
mereka dapat belajar teknologi di museum-museum.
Setelah tengah hari, kami mulai
lapar dan keluar dari museum. Di luar Leni bertanya pada petugas keamanan
dengan bahasa Belanda, di mana kami naik bis bila ingin ke Utrecht Central.
Petugas itu menyarankan pada kami untuk berjalan kaki saja karena tidak jauh.
Lalu kami berjalan kaki sembari mengambil foto-foto. Jalan-jalan menuju Utrecht
Cental sangat menarik, karena banyak tiang-tiang yang dihiasi bunga-bunga
gantung yang berwarna-warni. Jalan-jalan sangat bersih, tersedia jalur pejalan
kaki serta jalur sepeda, rumah-rumah berderet rapi dengan dinding-dinding bata.
Di pinggir jalan berderet tiang-tiang lampu yang diberi pot gantung yang
ditanami bunga berwarna warni, paduan bunga berwarna merah dan merah muda. Lalu
kami melewati kanal-kanal yang di pinggirnya diberi pagar besi. Pagar-pagar itu
ditempeli oleh sepeda-sepeda yang parkir. Rupanya sepeda juga merupakan alat
transportasi utama di Utrecht. Di beberapa bagian kanal ada tangga untuk turun
ke bawah, ke bantaran kanal. Di bantaran itu banyak terdapat café-café yang
dipenuhi oleh pengunjung.
Setelah cukup jauh berjalan kami
bertemu dengan katedral, kami masuk ke katedral tersebut, di halaman dalamnya
terdapat taman-taman dengan bunga-bunga berwarna-warna. Ada sepasang pengantin
yang sedang berfoto. Setelah keluar dari katedral itu, kami mulai banyak
menemukan toko-toko dan restoran. Kami mulai mencari-cari cafe untuk makan
siang. Akhirnya kami menemukan sebuah café penjual kebab. Kelihatannya enak.
Kami putuskan untuk makan di situ, dan memilih duduk di luar. Kebabnya lumayan
enak. Setelah makan kami melihat-lihat di toko souvenir. Lalu karena ingin
makan dan minum yang manis-manis, kami masuk ke café dan toko coklat.
Menjelang sore kami putuskan
untuk kembali ke stasiun kereta dan kembali pulang ke Ede dengan naik kereta.
Peron kereta di Utrecht bagus sekali, atapnya berdesain modern dan sangat
bersih. Menurut saya, peron stasiun di Utrehct ini peron stasiun kereta yang
paling bagus yang pernah saya datangi. Kami sampai di rumah sekitar jam 4 sore.
Jam 6 sore, Leni mengajak saya
berjalan kaki ke rumah temannya untuk berbagi oleh-oleh. Kami kembali berjalan
pulang sekalian berolah raga dan melihat-lihat keindahan bunga-bunga di halaman
tetangga-tetangga Leni. Pada saat kami sampai di depan rumah, Matthieu datang
dengan mobilnya, lalu mengajak kami
untuk makan es krim di pusat kota Ede.
Hari Minggu jam 09.00 kami sudah
berangkat dari rumah Leni menuju Amsterdam. Namun sebelumnya kami mampir dulu
ke rumah Ibu Matthieu untuk menjemput Helena yang menginap di sana. Ibu
Matthiew sudah berumur 86 tahun, namun masih cantik, sehat, fit, mandiri dan
masih naik sepeda kemana-mana. Ia tinggal sendiri di rumahnya yang cantik. Ia
berasal dari Swiss, maka selain mampu berbicara bahasa Belanda, ia juga bahasa Jerman. Waktu kami sampai di rumahnya
ia sedang bersiap-siap untuk berangkat ke gereja.
Setelah Mama Mattheiu berangkat,
Helena bergabung dengan kami di mobil Matthieu dan meluncur ke Amsterdam.
Helena ikut dengan kami karena ia mau berbelanja pakaian. Perjalanan kami
menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Kami mampir dulu ke rumah Kakak Matthieu,
yaitu Margaret. Di rumah Margaret kami mengobrol sebentar, dan ia menyuguhi
kami strawberry cake yang lezat. Lalu suami Margaret mengantar kami ke
Rijksmuseum, museum nasional di Amsterdam, sedangkan Matthieu tinggal di rumah
Margaret karena membantu Margaret untuk membuat rak, sedangkan Helena akan
pergi belanja dengan Margaret dan anak perempuannya.
Kami tidak lama menikmati
arsitektur Rijksmuseum yang indah dari luar. Kami segera antri membeli tiket.
Leni membantu saya antri membeli tiket, dan saya pergi ke toko souvenir
melihat-lihat. Saya tidak membeli karena kata Leni lebih murah beli souvenir di
Volendam. Leni mengantri hampir 15 menit, setelah mendapat tiket kami langsung
masuk ke lantai 2 ke bagian lukisan. Tujuan pertama kami adalah melihat lukisan
Rembrand, Night Watch yang spektakuler. Saya yang memang penggemar seni sungguh
terpesona dengan hasil karya para seniman 1600-1800 ini. Saya kagum sekali
betapa Rembrand mampu melukis renda emas benar-benar mirip seperti aslinya.
Saya menelusuri keempat lantai museum ini, mengagumi karya-karya seni berupa
lukisan dan patung-patung.
Sekitar jam 14.00 kami mulai
lapar dan keluar dari museum. Kami berjalan menelusuri jalan-jalan dan
pertokoan. Tak lama kami berjalan Syifa bertemu dengan temannya di sekolah.
Memang banyak sekali orang Indonesia yang berwisata ke Eropa pada liburan musim
panas. Setelah kembali berjalan, akhirnya kami menemukan café yang cukup nyaman
dan makan siang di sana.
Setelah makan kami kembali
berjalan kaki menelusuri jalan-jalan dan pertokoan, menyeberangi kanal-kanal.
Kanal di Belanda lebih besar dari pada kanal-kanal di Utrecht. Jembatan yang
menyebrangi kanal dihiasi oleh pot-pot bunga berwarna-warni. Di kanal-kanal itu
banyak perahu/boat yang parkir. Banyak booth yang menawaran wisata kanal dan
boat.
Jalanan sangat ramai oleh pejalan
kaki maupun pesepeda yang melintas, dan
mereka sangat ngebut. Saking banyaknya pengguna sepeda, bahkan mobil sangat
sulit untuk lewat. Sepeda yang digunakan seperti sepeda ontel, tinggi. Akhirnya
kami sampai di Damsquare, yaitu lapangan atau alun-alun di pusat kota
Amsterdam, tempat orang-orang banyak berkumpul, ada burung-burung merpati
bermain di lapangan tersebut. Lapangan ini tidak berumput, tapi berlantai
tembok dan dikelilingi bangunan Royal Palace, New Church, Museum Madam Tussaud
dan pilar putih National monument. Royal Palace dan New Church merupakan
bangunan-bangunan indah dengan arsitektur klasik khas Eropa.
Sekitar jam 18.00 kami pulang ke
rumah Margareth dengan naik becak khas Amsterdam. Becaknya cukup membawa
penumpang 3 orang, jadi pas banget membawa saya, Syifa dan Leni. Kami cukup bingung
mencari rumah Margareth, Leni harus pakai Google map dulu. Rumah Margareth ada
dilantai 2 sampai lantai 4. Hank,
suaminya mengajak kami ke atap lantai 4, untuk melihat pemandangan di sekitar
rumahnya dari atas atap. Kebanyakan rumah-rumah di Belanda memang berbentuk
ruko dua, tiga atau 4 lantai. Hank menanam bunga-bunga dalam pot di atap
tersebut. Bunga-bunga tersebut tumbuh subur karena mendapat cukup cahaya. Hank
mengaku dia yang menyiram dan merawat tanaman tersebut. Jam 19.30 meninggalkan
rumah Margareth menuju penginapan saya berikutnya di Gorstraat 18.1068 VX. Leni
dan Matthieu agak khawatir meninggalkan kami di sana, namun saya yakinkan
mereka bahwa kami akan baik-baik saja.
Rumah ini milik Pak Warta, orang
Indonesia yang tinggal di Amsterdam. Pak Warta biasa menyewakan rumahnya untuk
turis-turis dari Indonesia. Saya dapat info tentang rumah Pak Warta dari
website Serbalanda. Sebelum saya berangkat ke Eropa saya sudah kontak Pak
Warta, dan booking satu kamar. Saya membayar 30 Euro permalam perorang, sudah
termasuk sarapan. Gorstraat ini ada di pinggiran kota Amsterdam, banyak dihuni
oleh keturunan Timur Tengah. Namun rumah Pak Warta cukup strategis, karena
dekat dengan perhentian terakhir trem nomor 11. Hanya berjalan kaki sekitar 5
menit. Rumahnya sangat bersih, ada wifi dan Pak Warta dan keluarga sangat
ramah.
Waktu saya sampai, sekitar jam
20.00, Pak Warta dan istrinya sedang bekerja shift sore. Pak Warta bekerja
sebagai chef di restoran sushi, dan istri Pak Warta bekerja sebagai perawat di
rumah sakit. Kami disambut oleh adik perempuan Pak Warta dan anak perempuannya
yang berusia 5 tahun dan anak laki-lakinya yang lucu berusia 7 bulan. Setelah
bermain sebentar dengan anak-anak Pak Warta, kami naik ke kamar kami di lantai
2, mandi, dan beristirahat. Udara di Amsterdam malam ini cukup hangat, sehingga
saya dapat tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, saya menerima
pesan via whatsapp dari Pak Eka Tanjung dari Serbalanda. Saya memesan tour
Zaanse Schans, Giethoorn dan Volendam melalui website Serbalanda, beberapa hari
sebelum keberangkatan ke Eropa. Harganya 70 Euro perorang, di luar makan siang.
Pak Eka Tanjung akan menjemput kami jam 9 pagi. Bangun tidur kami langsung bersiap-siap
dan sarapan sambil menunggu jemputan. Pak Warta menyediakan sarapan roti,
indomie, keju, salami, buah pisang, susu, teh dan kopi. Saya pilih makan roti
dengan salami dan minum teh.
Hampir jam 9.30 Pak Eka datang
menjemput kami dengan mobil van. Di dalam mobil sudah ada 6 orang anggota tour,
satu keluarga Indonesia, ayah, ibu dan empat orang anaknya yang remaja dan
menjelang remaja. Van tersebut cukup nyaman dan memang berkapasitas 8
penumpang. Pak Eka mengajak kami mampir dulu ke super market untuk berbelanja
snack dan minuman. Setelah berbelanja, ternyata salah seorang anggota tour ada
yang ingin ke toilet, sedangkan supermarket itu tidak menyediakan toilet, maka
saya sarankan kami balik lagi ke rumah Pak Warta yang belum jauh.
Tujuan kami yang pertama adalah
Zaanse Schans, yang kami tempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Zaanse Schans adalah gambaran desa Belanda
abad ke 17-18. Desa ini terletak di pinggir sungai Zaan dan terdapat banyak
kincir angin yang masih beroperasi dan rumah-rumah dari kayu yang cantik, serta
lahan pertanian. Waktu kami datang saya terpesona dengan pemandangan
kincir-kincir anginnya. Lalu di lahan pertanian saya lihat ada bola-bola besar.
Lalu Pak Eka menjelaskan bahwa bola-bola itu adalah rumput yang dipotong di
musim panas, lalu diawetkan dengan digulun-gulung, untuk persediaan makanan
ternak di musim dingin nanti. Dengan teknologi tertentu, pada saat dibuka nanti
rumput tersebut masih segar. Wow, teknologi pertanian di Belanda sungguh maju.
Saya melihat sekelompok pelukis
sedang melukis kincir-kincir angin yang bertebaran dengan sangat indah berpadu
dengan kebun rumput, rumah-rumah kayu dan sungai. Lukisan mereka pun indah
seperti pemandangan aslinya.
Kami masuk bangunan kayu untuk
melihat demo pembuatan kelom dari kayu. Hanya dalam waktu 3 menit, mesin
pembuat kelom mampu menghasilkan sebuah kelom. Setelah melihat demo, kami
menuju ruangan yang menjual souvenir, berupa kelom, gantungan kunci, tatakan
gelas, nampan, tempelan kulkas, dan lain-lain. Lalu kami keluar dan berjalan
menuju bangunan rumah kayu lainnya. Rupanya di dalamnya adalah toko yang
menjual keju. Para turis diperbolehkan mencicipi berbagai macam jenis keju.
Saya sempat tergoda untuk membeli keju yang enak banget, namun saya urungkan
karena mengingat perjalanan saya masih panjang dan kejunya cukup berat.
Lalu kami lanjut ke Volendam, ke
sebuah desa Nelayan yang indah dengan rumah-rumah kayu khas Belanda zaman dulu.
Jalan-jalannya berupa conblok. Di pelabuhan banyak perahu yang dtambatkan. Kami
pergi ke pusat keramaian desa itu, di kiri kanan kami banyak toko-toko
souvenir, penginapan, café dan restoran.
Semua rumah-rumah, hotel dan toko tersebut sangat indah berhiaskan bunga-bunga.
Kami masuk ke restoran yang menjual wafell, Syifa memesan sebuah wafell dan
saya pergi ke luar untuk mencari makanan yang agak berat. Saya menemukan banyak
booth yang menjual ikan goreng, seperti ikan tuna yang dipotong-potong, lalu
digoreng, namanya kibeling. Saya pilih ikan goreng yang paket nasi yang mirip
nasi kebuli. Ikan goreng saya, saya bawa ke restoran wafel dan makan bersama
Syifa. Boleh dibilang, makanan kami
murah meriah, wafel Syifa Cuma 4 Euro dan kibeling saya hanya 7 Euro. Setelah
selesai makan kami berbelanja oleh-oleh. Di Volendam ternyata memang murah
berbelanja souvenir. Lalu terakhir kami pergi ke kios tempat berfoto dengan
pakaian khas Belanda. Pakaian berupa
dress dengan celemek dan topi kerucut warna putih.
Sekitar jam 14.00 kami kembali ke
Amsterdam. Pak Eka Tanjung membawa kami ke restoran Indonesia, warung Atikah
untuk makan siang. Porsi makanan yang disuguhkan sangat besar, paket nasi
dengan sayur dan satu macam lauk harganya sekitar 12 Euro.
Dari Warung Atikah kami
melanjutkan perjalanan kami ke desa unik, yaitu Giethoorn, yang cukup jauh dari
Amsterdam. Perjalanan kami sekitar 1,5 jam untuk sampai di desa yang tidak ada jalan
untuk mobil tersebut. Kami sampai sudah jam 19.00. Tempat itu sudah sepi dan
langit kelihatan agak mendung. Pak Eka memesan perahu yang beratap untuk kami,
untuk berjaga-jaga jika hujan. Perahunya besar, yang kapasitasnya bisa 20
orang, jendela kacanya bisa dibuka ke arah dalam, ke arah langit-langit perahu,
sehingga pemandangan kami tetap leluasa, namun kepala kami akan terlindungi
bila terjadi gerimis. Perahu yang dinahkodai oleh seorang anak muda ini
bertenaga motor, namun suara mesinnya lembut, tidak berisik.
Perahu kami meluncur perlahan di jalur
air kecil atau kanal yang lebarnya sekitar 4 meter, yang menjadi pengganti
jalan aspal di desa ini, melewati rumah-rumah warga desa yang desainnya seperti
rumah tempo dulu. Rumah-rumah tersebut beratapkan jerami, dengan halaman rumput
yang terawat rapi dengan bunga-bunga indah yang sedang bermekaran. Alat
transportasi di dalam desa itu adalah perahu. Lalu ada juga jalan-jalan kecil
untuk pejalan kaki dan jembatan kayu yang menghubungkan rumah dengan rumah di
seberangnya. Ada 170 lebih jembatan kayu di desa tersebut. Jembatan tersebut
melengkung ke atas, sehingga perahu bisa lewat di bawahnya. Suasana sangat
tenang dan damai, hanya suara tour guide kami yang menceritakan sejarah desa
tersebut. Bahkan suara mesin perahu kami pun tidak berisik. Kami hanya terdiam
mengagumi keindahan dan damainya suasana di Giethoorn ini.
Lalu perahu kami keluar dari
desa, kami melintasi danau. Di danau tersebut banyak burung yang mengikuti
perahu kami. Ternyata Pak Eka Tanjung sudah menyiapkan roti untuk memberi makan
buru-burung tersebut, sehingga mereka terus mengikuti kami. Saya takjup melihat
petapa gesitnya burung-burung tersebut mematuk roti yang dilempar ke air, hanya
dalam hitungan detik. Kami berperahu sekitar satu jam. Setelah melintasi danau
kami kembali masuk ke desa dan trip kami berakhir di tempat kami mulai.
Pak Eka Tanjung mengantarkan kami
ke penginapan masing-masing. Sebelum sampai kami mampir di KFC untuk membeli
bekal untuk makan malam. Kami sampai di penginapan sekitar jam 21.00. Kami
langsung mandi dan beristirahat.
Keesokan harinya kami keluar
tidak terlalu pagi. Seperti hari sebelumnya, Pak Warta menyediakan kami sarapan
roti tawar, salami, berbagai macam selai, keju lembaran, Popmie, dengan minuman
teh, kopi dan susu. Pak Warta juga mengantar kami membeli kartu untuk naik trem
yang berlaku 24 jam. Karena saya bercerita ke Pak Warta bahwa saya suka
tanaman, maka Pak Warta mengusulkan saya untuk melihat toko tanaman dan
perlengkapan kebun dan rumah yang sangat besar di Amsterdam. Nama tokonya Tuin
Centrum Osdorp, tidak jauh dari rumah Pak Warta di Gorstraat. Tokonya luas
sekali seperti gudang raksasa, menjual segala macam bunga-bungaan, bibit
pohon-pohon, tanaman-tanaman berdaun indah yang banyak terdapat di Indonesia
juga dijual di sini, berbagai macam pakis, palem, aglonema, daln lain-lain.
Perlengkapan kebun, camping dan dekorasi rumah, tanaman plastik juga dijual di
sini. Toko ini gabungan antara Ikea, Ace Hardware dan Mitra 10 bila di
Indonesia. Saya hanya membeli bibit tanaman matahari sachetan, yang kira-kira
ringan untuk dibawa ke Indonesia. Namun kami harus berjalan dulu mengelilingi
toko, melihat semua barang dagangannya barulah kami sampai di kasir.
Keluar dari Tuin Centrum Osdorp,
kami hanya berjalan kaki sedikit untuk sampai di perhentian trem. Lalu kami
naik trem sampai ujung, yaitu stasiun central, yang dekat dengan Dam Square.
Kami bermaksud untuk pergi ke Den Haag. Kami beli tiket di mesin tiket dengan
kartu kredit. Kami naik kereta Sprinter dari Amsterdam ke Den Haag. Keretanya
bagus dan ada wifi gratis. Di Den Haag kami turun lalu berjalan kaki menuju
Binnehof. Di sepanjang jalan terdapat gedung-gedung perkantoran modern. Kami
membeli simcard dari Lica yang katanya bisa dipakai di Negara Eropa lainnya. Lega
banget akhirnya bisa online di perjalanan. Sore kami kembali naik kereta ke
Amsterdam. Karena Syifa sakit kepala, kami langsung pulang lagi ke rumah Pak
Warta. Malamnya kami mulai
mengepak-ngepak barang karena besok pagi akan melanjutkan perjalanan ke
Brussel, ibukota Belgia.
Senang sekali membaca pengalaman tetamu usai jalan dengan Serbalanda Tour untuk wisata sehari di Belanda. Semoga berkesan dan semoga kita bisa dipertemukan kembali dalam kondisi dan situasi yang lebih baik lagi dari hari ini. Terima Kasih untuk tulisannya yang menarik. Salam, Eka Tanjung dari Serbalanda.
ReplyDelete